BAB
I
PENDAHULUAN
1.1. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penulis mengajukan beberapa rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa saja isi buku Ilmu Bahasa Indonesia : Linguistik karya M. Ramlan ?
2. Apa saja keungggulan buku tersebut dibandingkan buku sejenisnya yang lain ?
3. Apa saja kelemahan buku tersebut dibanding buku sejenisnya yang lain ?
1.2. TUJUAN
Tujuan yang hendak dicapai melalui penulis laporan buku ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan :
1. Apa saja isi buku Ilmu Bahasa Indonesia : Linguistik karya M. Ramlan ?
2. Apa saja keungggulan buku tersebut dibandingkan buku sejenisnya yang lain ?
3. Apa saja kelemahan buku tersebut dibanding buku sejenisnya yang lain ?
1.3. KEGUNAAN
Laporan buki ini diharapkan mampu memiliki kegunaan baik secara teoritis maupun secara praktis. Secara teoritis diharapkan laporan buku ini menambah khazanah tentang ilmu bahasa Linguistik. Sedangkan secara praktis laporan buku ini menambah pengetahuan, wawasan dan ilmu bagi penulis maupun pembaca.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1. LINGUISTIK TRADISIONAL
Linguistik Tradisional sering dipertentangkan dengan bahasa struktural, bedanya tata bahasa tradisional menganalisis bahasa pada filsafat dan semantik, sedangkan tata bahasa struktural berdasarkan struktur / ciri formal yang ada pada suatu bahasa tertentu. Bagaimana terbentuknya tata bahasa tradisional akan dibicarakan sebagai berikut :
A. Linguistik Zaman Yunani ( abad ke 5 SM – abad ke 2 SM )
Yang menjadi pertentangan saat itu adalah :
Pertentangan antara fisis dan nomos. Bersifat fisis maksudnya bahasa itu mempunyai hubungan asal-usul, sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tidak dapat diganti diluar manusia itu sendiri, konversional artinya, makna-makna kata itu diperoleh dari hasil-hasil tradisi / kebiasaan.
Pertentangan anologi dan anomali. Kaum anologi ( Plato dan Ariestoteles ) berpendapat bahwa bahasa bersifat teratur, analogi sejalan dengan kaum naturalis, sedangkan anomali berpendapat bahwa bahasa itu tidak teratur. Kaum anomali sejalan dengan kaum konvensional.
Kaum / yokoh pada Zaman Yunani :
a. Kaum Shophis ( abad ke 5 SM )
Mereka dikenal karena :
Mereka melakukan kerja secara empirisv
Melakukan kerja secara pasti dengan menggunakan ukuran tertentu.v
Mementingkan bidan retorika dalam studi bahasa.v
Memberikan tipe-tipe akalimat menjadi kalimat narasi, kalimat Tanya, kalimatv
jawab, kalimat perintah, kalimat laporan, doa dan undangan. Gregorias membicarakan tata bahasa.
b. Plato ( 429 – 347 SM )
Memperdebatkan analogi dan anomaly dalam bukunya Dialog. Jugav mengemukakan masalah bahasa alamiah dan konvensional.
Dia menyodorkan batasan bahasa yang bunyinya kira-kira bahasa adalahv pernyataan dipikan manusia dengan perencanaan anomata dan rhemata.
Dialah orang yang pertamakali membedakan kata anoma dan rhema.v
Anoma ( anomata )
Nama ( dalam bahasa sehari-hari )v
Nomina ( dalam istilah tata bahasa )v
Subjek ( dalam hubungan subjek logis )v
Rhema ( Rhamata ) :
Ucapanv ( dalam bahasa sehari-hari )
Verba ( dalam istilah tata bahasa )v
Predikat ( dalam hubungan subjek logis )v
c. Ariestoteles ( 384 – 322 SM )
Membagi kata dalam 3 kelas kata, yaitu anoma, rhema dan syndesmy. Yangv dimaksud syndesmoi adalah kata-kata yang lebih banyak bertugas dalam hubungan sintaksis. Sydnesmoi itu lebih kurang sama dengan preposisi dan konjungsi yang sekarang kita kenal.
Membedakan jenis kelamin kata ( gender ) menjadi 3 yaitu : maskulin, feminism dan neutrum.v
d. Kaum Stoik ( abad ke – 4 SM )
Membedakan studi bahasa secara logika dan studi bahasa secara tata bahasa.v
Menciptakan istilah khusus dalam studi bahasa.v
Membedakan 3 komponen utama dari studi bahasa yaitu : 1) tanda,v simbol, sign atau semainon, 2) makna, apa yang disebut smainomen / lekton, 3) hal-hal diluar bahasa yakni benda-benda / situasi.
Mereka membedakan legein, yaitu bunyi yang merupakan bagian fonologiv tetapi tidak bermakna dan propheretal yaitu ucapan bunyi bahasa yang menagandung makna.
Mereka membagi jenis kata menjadi 4 kata yaitu benda, kata kerja,v syndesmoi dan arthoron yaitu kata-kata yang menyatakan jenis kelamin dan jumlah.
Membedakan kata kerja komplek dan kata kerja tak komplek. Serta kata kerja aktif dan pasif.v
e. Kaum Alexandrian
Kaum ini menganut paham analogi dan studi bahasa, menghasilkan buku tata bahasa yang disebut Tata Bahasa Dionysus Tharx dan diterjemahkan oleh Remmius Palaemon dengan judul Ars Grammatika. Buku ini yang kemudian dijadikan model dalam penyusunan buku tata bahasa Eropa lainnya. Karena sifatnya mentradisi makna buku-buku tata bahasa kini disebut dengan nama tata bahasa tradisional. Jadi, cikal bakal tata bahasa tradisional itu berasal dari buku Dionysus Tharx.
Di India pada tahun 400 SM Panini seorang sarjana Hindu membuat buku dengan judul Adtdyasi merupakan deskripsi lengkap bahasa Sansakerta yang pertama kali ada. Oleh karena itu Leonard Bloomfield, tokoh linguis structural Amerika menyebut Panini sebagai One of The Greatest Monuments of The Human Intelligenci.
B. Zaman Romawi
Merupakan kelanjutan dari zaman yunani. Tokoh pada zaman Romawi yang terkenal antara lain, Varro ( 116 – 27 SM ) dengan karyanya, De Lingua Latina dan Priscia dengan karyanya Institusiones Grammaticae.
a. Varro dan “ De Lingua Latina ”
Dalam buku ini Varoo masih membahas masalah analogi dan anomali seperti pada zaman Stoik di Yunani. Dibagi dalam bidang-bidang etimologi, morfologi dan sintaksis
b. Tata bahasa Priscia
Dianggap sangat penting karena :
Merupakan buku tata bahasa latin paling lengkap yang dituturkan pembicaraan aslinya.v
Teori-teori tata bahasa yang merupakan tonggak-tonggak utamav pembicaraan bahasa secara tradisional. Segi yang dibicarakan dari buku itu adalah : (i) Fonologi dibicarakan mengenai huruf / tulisan yang disebut Literae / bagian terkecil dari bumi yang dapat dituliskan, (ii) Morfologi dibicarakan mengenai Dictio / kata, (iii) Sintaksis dibicarakan mengenai oratio yaitu tata susunan kata yang berselaras dan menunjukan kalimat itu selesai. Buku Institutiones Garammaticae ini telah menjadi dasar tata bahasa latin dan zaman pertengahan.
C. Zaman Pertengahan
Studi bahasa pada zaman pertengahan mendapat perhatian penuh terutama oleh para filsuf skolastik. Yang patut dibicarakan dalam studi bahasa antara lain adalah peranan :
a. Kaum Modistae
Mereka menerima analogi karena menurut mereka bahasa itu bersifat regular dan universal.v
Mereka memperhatikan secara penuh akan semantic sebagai penyebutan defines bentuk-bentuk bahasa.v
Mereka mencari sumber makna, maka dengan demikian berkembanglah bidang etimologi pada zaman itu.v
b. Tata Bahasa Skulativa
Merupakan hasil integrasi deskripsi gramatikal bahasa latin kedalam filsafat skolastik.
c. Petrus Hispanus
Memasukan psikologi dalan analisis makna bahasav
Membedakan nomen atas dua macam yaitu nomen subtantivum dan nomen edjektivumv
Membedaan semua bentuk yang menjadi subjek / predikat dan bentuk tutur lainnya.v
D. Zaman Renaisans
Zaman Renaisans dianggap sebagai zaman pembukaan abad pemikiran abad modern. Dalam sejarah studi bahasa ada dua hal pada zaman renaisans ini yang menonjol yang perlu dicatat. 1) Sarjana-sarjana pada waktu itu menguasai bahasa latin, Ibradi dan Arab, 2) Bahasa Eropa lainnya mendapat perhatian dalam bentuk pembahasan, penyusunan tata bahasa dan perbandingan.
E. Menjelang Lahirnya Linguistik Modern
Sejak awal buku ini sudah menyebut-nyebut bahwa Ferdinand de Saussure dianggap sebagai Bapak Linguistik Modern. Diawali dengan pernyataan Sir William tentang adanya hubungan kekerabatan antara bahasa Sansakerta dengan bahasa-bahasa Yunani, Latin dan bahasa Jerman lainnya telah membuka babak baru sejarah Linguistik, yakni dengan berkembangnya studi linguistic banding atau linguistic histories komparatif, serta studi mengenai hakekat bahasa secara linguistic terlepas dari masalah filsafat Yunani kuno.
Bila kita simpulkan pembicaraan mengenai linguistik tradisional dapat dikatakan bahwa :
a. Pada tata bahasa tradisional ini tidakdikenal adanya perbedaan antara bahasa ujarang dengan bahasa tulisan. Oleh karena itu, deskripsi bahasa hanya bertumpu pada tulisan.
b. Bahasa yang disusun tata bahasanya dideskripsikan dengan mengambil patokan-patokan dari bahasa lain, terutama bahasa latin.
c. Kaidah-kaidah bahasa dibuat secara persepektif, yakni benar / salah.
d. Persoalan kebahasaan seringkali dideskripsikan dengan melibatkan logika.
e. Penemuan-penemuan terdahulu cenderung untuk selalu dipertahankan.
Sedangkan Linguistik strukturalis berusaha mendeskripsikan suatu bahasa berdasarkan ciri bahasa itu. Tokoh-tokohnya :
A. Ferdinand de Saussure.
1. TelaaH sinkronik ( mempelajari bahasa dalam kurun waktu tertentu saja ) dan diakronik ( telaah bahasa sepanjang masa )
2. Perbedaan langue dan parloe. Lague yaitu keseluruhan sistem tanda yang berfungsi sebagai alat komunikasi verbal antara para anggota suatu masyarakat bahasa, sifatnya abstrak. Sedangkan parloe sifatnya konkret karena parloe tidak lain dari pada realitas fisis yang berada dari yang satu dengan orang yang lain.
3. Perbedaan signifian dan signifie. Signifian adalah citra bunyi atau kesan psikologis bunyi yang timbul dalam alam pikiran ( bentuk ), signifie adalah pengertian atau kesan makna yang ada dalam pikiran kita ( makna )
4. Hubungan sintagmatik dan paradigmatik. Yang dimaksud hubungan sintagmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan, yang tersusun secara berurutan, bersifat linear. Hubungan parsdigmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan antara unsur-unsur yang terdapat dalam satu tuturan dengan unsur-unsur sejenis yang tidak terdapat dalam tuturan yang bersangkutan.
B. Aliran Praha
Sumbangan aliran ini dalam bidang fonologis ( mempelajari bunyi tersebut dalam suatu sistem ) dan bidang sintaksis dengan menelaah kalimat melalui pendekatan fungsional.
C. Aliran Glosematik
Aliran Glosematik lahiran Denmark. Tokohnya Louis Hjemslev yang meneruskan ajaran Fernand de Saussure. Namanya menjadi terkenal karena usahanya untuk membuat ilmu bahasa menjadi ilmu yang berdiri sendiri, bebas dari ilmu lain, dengan peralatan, metodologis dan terminologis sendirian.
D. Aliran Fitrhian
Nama John R. Firth terkenal karena teorinya mengenai finolofi prosodi. Fonologi prosodi adalah suatu cara untuk menentukan ati pada tataran fonetis.
E. Linguistik Sistemis.
Pokok pandangan aliran ini adalah :
• SL memberikan perhatuan penuh pada segi kemasyarakatan bahasa.
• SL memandang bahasa sebagai sarana
• SL mengutamakan pemerian ciri-ciri bahasa tertentu beserta variasinya
• SL mengenal adanya gradasi / kontinum
• SL menggambarkan tiga tataran utama bahasa
F. Leonard Bloomfield dan Strukturalis Amerika
Disebut aliran Bloomfield karena bermula dari gagasan Bloomfield. Disebut aliran taksonomi karena aliran menganalisis dan mengklasifikasikan unsur-unsur bahasa berdasarkan hubungan hierarkinya.
G. Aliran Tagmemik
Dipelopori oleh Kenneth L. Pike yang mewarisi pandangan Bloomfield. Menurut alitan ini satuan dasar dari sintaksis adalah tagmem ( susunan ) . Tagmem ini tidak dapat dinyatakan dengan fungsi-fungsinya saja. Seperti subjek + predikat + objek dan tidak dapat dinyatakan dengan bentuk saja, seperti fase benda + fase kerja + fase benda, melainkan harus diungkapkan kesamaan dan rentetan rumus seperti : S : FN + P : FN + O : FN. Fungsi subjek diikuti pula oleh fungsi objek yang diisi oleh frase nominal.
Dunia ilmu, termasuk linguistik bukan merupakan kegiatan yang statis melainkan merupakan kegiatan yang dinamis, berkembang terus sesuai dengan filsafat ilmu itu sendiri yang selalu ingin mencari kebenaran yang hakiki. Kemudian orang pun marasa bahwa model struktural itu banyak kelemahannya, sehingga orang mencoba merevisi model struktural.
2.2. TATA BAHASA TRANSFORMASI
Tata Bahasa Transformasi berusaha mendeskripsikan ciri-ciri kesemstaan bahasa. Lalu karena pada mulanya teori tata bahasa ini dipakai untuk mendeskripsikan kaidah-kaidah bahasa Inggris, maka kemudian ketika para pengikut teori ini mencoba untuk menggunakannya terhadap bahasa-bahasa lain. Timbullah berbagai masalah. Apa yang tadinya sudah dianggap universal ternyata tidak universal. Oleh karena itu usaha perbaikan mulai dilakukan
2.3. SEMANTIK GENERATIF
Menurut teori Generatif Semantik, struktur semantic dan struktur sintaksis bersifat homogen dan untuk menghubungkan kedua struktur itu cukup hanya dengan kaidah transformasi saja. Menurut semantic generatif, sudah seharusnya semantik dan sintaksis diselidiki bersama sekaligus karena keduanya adalah satu.
2.4. TATA BAHASA KASUS
Dalam karangannya yang terbit tahun 1968 itu Fillmore membagi kalimat atas :
1. Modalitas, yang bisa berupa unsu negasi, kala, aspek dan adverbial; dan
2. Proposisi, yang terdiri dari sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus
2.5. TATA BAHASA RELASIONAL
Tokohnya David M. Parlmutter dan Paul M. Postal. Tata bahasa relasional
( TR ) banyak menyerang tata bahasa transformasi ( TT ), karena mengangap teori-teori TT itu tidak dapat diterapkan pada bahasa-bahasa lain selain bahasa Inggris. Menurut teori bahasa rasional, setiap struktur klausa terdiri dar jaringan relasional ( relation network ) yang melibatkan 3 macara wujud yaitu :
a. Seperangkat simpai ( nodes ) yang menampilkan elemen-elemen didalam suatu struktur.
b. Seperangkat tanda relasional ( relation sign ) yang merupakan nama relasi gramatikal yang disandang oleh elemen-elemen itu didalam hubungannya dengan elemen lain.
c. Seperangkat “ Coordnates ” yang dipakai untuk menunjukan pada tatara yang manakah elemen-elemen itu menyandang relasi gramatikal tertentu terhadap elemen yang lain.
Sedangkan aliran-aliran yang ada di Indonesia dapat dijabarkan sebagai berikut :
A. Pada akhir abad ke – 19 dan awal abad ke – 20 pemerintah kolonal sangat membutuhkan informasi mengenai bahasa-bahasa yang ada dibumi Indonesia untuk melancarkan jalannya. Pemerintah kolonial di Indonesia sesuai dengan masanya, penelitian bahasa-bahasa daerah itu baru sampai pada tahap deskripsi sederhana mengenai sistem fonologi, morfologi, sintaksis serta pencatatan butir-butir leksikal beserta terjemahan maknanya dalam bahasa Belanda atau bahasa Eropa lainnya, dalam bentuk kamus.
B. Konsep-konsep linguistik modern seperti yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure sudah bergema sejak awal abad XX. Namun tampaknya gema lnguistik modern itu baru tiba di Indonesia pada akhir sekali tahun lima puluhan kiranya sejak kepulangan sejumlah linguis Indonesia dari Amerika Serikat seperti Anton M Moeliono dan T. W. Kamil. Kedua beliau inilah yang pertama-tama mengenalkan konsep fonem, morfem, ftasa dan klausa dalam pendidikan formal linguistik di Indonesia. Perkenalan dengan konsep-konsep linguistik ini menimbulkan pertentangan karena konsep-konsep linguistik tradisional yang sudah mendarah daging tidak begitu saja dapat diatasi. Perkembangan waktu jualah yang kemudian menyebabkan konsep-konsep linguistik modern dapat diterima.
C. Sejalan dengan perkembangan dan makin semaraknya studi linguistik, yang tentu saja dibarengi dengan munculnya linguis-linguis Indonesia, baik yang tamatan luar negeri, pada tanggal 15 November tahun 1975, atas prakarsa sejumlah linguis senior, berdirilah organisasi kelinguistikan yang diberi nama Masyarakat Linguistik Indonesia ( MLI ). Anggotanya adalah para linguis yang kebanyakan bertugas sebagai pengajar perguruan tinggi negeri atau swasta dan lembaga-lembaga penelitian kebahasaan.
D. Penyelidikan terhadap bahasa-bahasa daerah dan bahasa nasional Indonesia, banyak pula dilakukan oleh orang diluar Indonesia.
E. Sesuai dengan fungsinya sebagai bahasa nasional, bahasa persatuan dan bahasa Negara, maka Indonesia tampaknya menduduki tempat sentral dalam kajian linguistik dewasa ini, baik didalan negeri maupun diluar negeri. Berbagai segi dan aspek bahasa telah dan masih menjadi kajian yang dilakukan oleh banyak pakar dengan menggunakan berbagai teori dan pendekatan sebagai dasar analisis. Secara nasional bahasa Indonesia telah mempunyai buku tata bahasa baku dan sebuah kamus besar yang disusun oleh para pakar yang handal.
BAB
III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Tata Bahasa Dionysus Tharx dan diterjemahkan oleh Remmius Palaemon dengan judul Ars Grammatika. Buku ini yang kemudian dijadikan model dalam penyusunan buku tata bahasa Eropa lainnya. Karena sifatnya mentradisi makna buku-buku tata bahasa kini disebut dengan nama tata bahasa tradisional. Jadi, cikal bakal tata bahasa tradisional itu berasal dari buku Dionysus Tharx.
Linguistik Tradisional sering dipertentangkan dengan bahasa struktural, bedanya tata bahasa tradisional menganalisis bahasa pada filsafat dan semantik, sedangkan tata bahasa struktural berdasarkan struktur / ciri formal yang ada pada suatu bahasa tertentu.
Dan dibawah ini sejarah linguistik dan proses terbentuknya tata bahasa tradisional adalah sebagai berikut :
• Linguistik Zaman Yunani
• Linguistik Zaman Romawi
• Linguistik Zaman Pertengahan
• Zaman Renaissans dan
• Menjelang lahirnya Linguistik Modern
3.2. SARAN
Apabila dalam penulisan makalah ini ada kesalahan, saya atas nama penulis memohon untuk memberikan kritik, saran dan masukannya yang bersifat untuk membangun agar menuju kepada kesempurnaan.
DAFTAR
PUSTAKA
• Pie, Matio. 1971. Kisah dan pada Bahasa. Jakarta ; Bharata
• Verhaar. J. W. M. 1980. Teori Linguisrik dan Bahasa Indonesia. Yogyakarta ; Kanisius.
books.google.com/books/about/Kajian_serba_linguistik.html?id.
eribolot.blogspot.com/.../aliran-aliran-linguistik-di-barat-da...
4) Tata Bahasa
Relasional
Tata bahasa relasional muncul pada tahun 1970-an sebagai tantangan langsung terhadap beberapa asumsi yang paling mendasar dari teori sintaksis yang dicanangkan oleh aliran tata bahasa transformasi. Tokoh-tokoh aliran ini antara lain adalah : David M. Perlmutter dan Paul M. Postal. Tata bahasa relasional (TR) banyak menyerang tata bahasa transformasi (TT), karena menganggap teori-teori TT itu tidak dapat diterapkan pada bahasa-bahasa lain selain bahasa Inggris. Menurut teori bahasa relasional, setiap struktur klausa terdiri dari jaringan relasional (relational network) yang melibatkan tiga macam wujud, yaitu: 1) seperangkat simpai (nodes) yang menampilkan elemen-elemen di dalam suatu struktur; 2) Seperangkat tanda relasional (relational sign) yang merupakan nama relasi gramatikal yang disandang oleh elemen-elemen itu dalam hubungannya dengan elemen lain; dan 3) seperangkat "coordinates" yang dipakai untuk menunjukkan pada tataran yang manakah elemen-elemen itu menyandang relasi gramatikal tertentu terhadap elemen yang lain...
Tata bahasa relasional muncul pada tahun 1970-an sebagai tantangan langsung terhadap beberapa asumsi yang paling mendasar dari teori sintaksis yang dicanangkan oleh aliran tata bahasa transformasi. Tokoh-tokoh aliran ini antara lain adalah : David M. Perlmutter dan Paul M. Postal. Tata bahasa relasional (TR) banyak menyerang tata bahasa transformasi (TT), karena menganggap teori-teori TT itu tidak dapat diterapkan pada bahasa-bahasa lain selain bahasa Inggris. Menurut teori bahasa relasional, setiap struktur klausa terdiri dari jaringan relasional (relational network) yang melibatkan tiga macam wujud, yaitu: 1) seperangkat simpai (nodes) yang menampilkan elemen-elemen di dalam suatu struktur; 2) Seperangkat tanda relasional (relational sign) yang merupakan nama relasi gramatikal yang disandang oleh elemen-elemen itu dalam hubungannya dengan elemen lain; dan 3) seperangkat "coordinates" yang dipakai untuk menunjukkan pada tataran yang manakah elemen-elemen itu menyandang relasi gramatikal tertentu terhadap elemen yang lain...
pusatbahasaalazhar.wordpress.com/.../sintaksis-klausa-diatesis-verbal-...
Tata Bahasa Relasional
Tata bahasa relasional berusaha
mencari kaidah kesemestaan bahasa.Teori tata bahasa relasional,setiap struktur
klausa terdiri dari jaringan relasional yang melibatkan 3 macam wujud yaitu:
ü Seperangkat
simpai (nodes)
ü Seperangkat
tanda relasional
ü Seperangkat
coordinates
http://hasanbusri.blogspot.com/2010/01/perkembangan-kajian-bahasa.html
9. TATABAHASA RELASIONAL
Tatabahasa Relasional (relational grammar) merupakan pecahan dari Tatabahasa Transformasional (Transformational Grammar). Kedua aliran ini se-banarnya mengupayakan menggali kaidah yang dapat dipakai pada semua bahasa di dunia, yang disebut kaidah universal language atau kaidah bahasa semesta. Ta-tabahasa transformasional menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa garapannya, tetapi setelah dicoba oleh kelompok Aliran Tatabahasa Relasional terhadap baha-sa-bahasa selain bahasa Inggris, kaidah-kaidah tersebut tidak dapat diterima seba-gai semesta bahasa.
Tatabahasa Relasional dikembangkan oleh David M. Perlmulter dan Paul M. Postal pada tahun tujuh puluhan. Tatabahasa Relasional lahir sebagai reaksi ketidakpuasan terhadap Tatabahasa Transformasional (Transformational Grammar) mengenai struktur klausa yang dijabarkan melalui urutan linear (linear order) dan relasi dominansi (dominance relation) di antara unsur-unsur suatu klausa. Hal ini akan menghalangi Tatabahasa Transformasi menjadi teori sejagat (semesta bahasa). Menurut Tatabahasa Relasional, teori sintaksis semesta harus dianalisis berdasarkan relasi-relasi gramatikal.
Masalah Subjek dan Objek langsung berdasarkan relasi dominasi, Tataba-hasa Transformasional menjelaskan sebagai berikut: subjek adalah FN (Frasa Nomina) yang secara langsung didominasi oleh K (Kalimat), dan objek langsung adalah FN yang secara langsung didominasi oleh FV (Frasa Verba). Hal ini dapat digambarkan dalam diagram pohon sebagai berikut.
K
FN FV
V FN
Subjek objek (langsung)
Menurut Aliran Tatabahasa Relasional, Tatabahasa Transformasi dengan struktur klausa yang dijabarkan dengan urutan linear dan relasi dominasi, telah mengalami kegagalan dalam penerapannya terhadap bahasa-bahasa tertentu, mi-salnya bahasa Indonesia, bahasa Turki, bahasa Nitinah, dan sebagainya (Samsuri, 1988:111). Oleh karena bahasa yang berbeda-beda, pastilah menggunakan ciri susunan kata (different characteristics word orders) yang berbeda pula.
Prinsip dasar Tatabahasa Relasional adalah bahwa relasi-relasi gramatikal, seperti “subjek dari” dan “objek dari” memegang peranan penting dalam sintaksis bahasa alami. Relasi-relasi gramatikal diperlukan untuk mencapai tiga sasaran teori bahasa, yaitu (1) merumuskan kesejagatan bahasa (kesemestaan bahasa), (2) menetapkan karakteristik setiap konstruksi gramatikal yang ada pada bahasa-bahasa alami, dan (3) membangun suatu tatabahasa yang memadai untuk setiap bahasa.
Ketiga sasaran teori bahasa tersebut, dicapai oleh Tatabahasa Relasional melalui tiga unsur linguistik, (1) seperangkat simpai (nodes) yang menggambar-kan semua unsur linguistik (klausa, frasa, kata, dan morfem), (2) seperangkat tan-da relasi (relational signs), yang menggambarkan relasi-relasi gramatikal, (seperti subjek, predikat, objek) di antara unsur-unsur, dan (3) seperangkat koordinat (coordinates) (K1, K2, K3, dst) yang menggambarkan tataran-tataran yang berbe-da dari relasi-relasi yang dihasilkan (Samsuri, 1988:12; Djunaidi dalam Purwo,2000:458).
Daftar Rujukan
Alwasilah, A. Chaedar. 1992. Beberapa Madhab dan Dikotomi Teori Linguistik.
Bandung: Angkasa.
Bloofield, Leonard. 1980. Language. New York: Harcourt Brace Javanovich, Inc.
Busri, Hasan. 2007. Kajian Linguistik: Pengantar Memahami Hakikat Bahasa. Malang: Universitas Islam Malang.
Comsky, Noam. 1965. Aspets of the Theory of Syntax. Cambridge: Marsachusetts M.I.T Press.
Comsky, Noam. 1965. Language and Mind. New York: Harcourt Brace Javanovich.
Lyons, John. 1982. Language and Linguistics. Cambridge: Cambridge University
Press.
Purwo, Bambang Kaswanti (Ed.). 2000. Kajian Serba Linguistik untuk Anton
Moliono Pereksa Bahasa. Jakarta: Universitas Katolik Indonesia
Atmajaya.
Rusyana, Yus dan Samsuri (eds.). 1983. Pedoman Penulisan Tatabahasa
Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sampson, Geoffrey. 1980. Schools of Linguistics Competition and Evaluation.
London: Hutchinson.
Samsuri. 1988. Berbagai Aliran Linguistik Abad XX. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi,
P2LPTK.
Samsuri. 1987. Analisis Bahasa: Memahami Bahasa Secara Ilmiah. Jakarta:
Erlangga.
Sapir, Edward. 1975. Language. New York: Harcourt Brace Javanovich
Wahab, Abdul. 1990. Butir-butir Linguistik. Surabaya: Airlangga University
Press.
Wahab, Abdul. 1991. Isu Linguistik Pengajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya:
Tatabahasa Relasional (relational grammar) merupakan pecahan dari Tatabahasa Transformasional (Transformational Grammar). Kedua aliran ini se-banarnya mengupayakan menggali kaidah yang dapat dipakai pada semua bahasa di dunia, yang disebut kaidah universal language atau kaidah bahasa semesta. Ta-tabahasa transformasional menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa garapannya, tetapi setelah dicoba oleh kelompok Aliran Tatabahasa Relasional terhadap baha-sa-bahasa selain bahasa Inggris, kaidah-kaidah tersebut tidak dapat diterima seba-gai semesta bahasa.
Tatabahasa Relasional dikembangkan oleh David M. Perlmulter dan Paul M. Postal pada tahun tujuh puluhan. Tatabahasa Relasional lahir sebagai reaksi ketidakpuasan terhadap Tatabahasa Transformasional (Transformational Grammar) mengenai struktur klausa yang dijabarkan melalui urutan linear (linear order) dan relasi dominansi (dominance relation) di antara unsur-unsur suatu klausa. Hal ini akan menghalangi Tatabahasa Transformasi menjadi teori sejagat (semesta bahasa). Menurut Tatabahasa Relasional, teori sintaksis semesta harus dianalisis berdasarkan relasi-relasi gramatikal.
Masalah Subjek dan Objek langsung berdasarkan relasi dominasi, Tataba-hasa Transformasional menjelaskan sebagai berikut: subjek adalah FN (Frasa Nomina) yang secara langsung didominasi oleh K (Kalimat), dan objek langsung adalah FN yang secara langsung didominasi oleh FV (Frasa Verba). Hal ini dapat digambarkan dalam diagram pohon sebagai berikut.
K
FN FV
V FN
Subjek objek (langsung)
Menurut Aliran Tatabahasa Relasional, Tatabahasa Transformasi dengan struktur klausa yang dijabarkan dengan urutan linear dan relasi dominasi, telah mengalami kegagalan dalam penerapannya terhadap bahasa-bahasa tertentu, mi-salnya bahasa Indonesia, bahasa Turki, bahasa Nitinah, dan sebagainya (Samsuri, 1988:111). Oleh karena bahasa yang berbeda-beda, pastilah menggunakan ciri susunan kata (different characteristics word orders) yang berbeda pula.
Prinsip dasar Tatabahasa Relasional adalah bahwa relasi-relasi gramatikal, seperti “subjek dari” dan “objek dari” memegang peranan penting dalam sintaksis bahasa alami. Relasi-relasi gramatikal diperlukan untuk mencapai tiga sasaran teori bahasa, yaitu (1) merumuskan kesejagatan bahasa (kesemestaan bahasa), (2) menetapkan karakteristik setiap konstruksi gramatikal yang ada pada bahasa-bahasa alami, dan (3) membangun suatu tatabahasa yang memadai untuk setiap bahasa.
Ketiga sasaran teori bahasa tersebut, dicapai oleh Tatabahasa Relasional melalui tiga unsur linguistik, (1) seperangkat simpai (nodes) yang menggambar-kan semua unsur linguistik (klausa, frasa, kata, dan morfem), (2) seperangkat tan-da relasi (relational signs), yang menggambarkan relasi-relasi gramatikal, (seperti subjek, predikat, objek) di antara unsur-unsur, dan (3) seperangkat koordinat (coordinates) (K1, K2, K3, dst) yang menggambarkan tataran-tataran yang berbe-da dari relasi-relasi yang dihasilkan (Samsuri, 1988:12; Djunaidi dalam Purwo,2000:458).
Daftar Rujukan
Alwasilah, A. Chaedar. 1992. Beberapa Madhab dan Dikotomi Teori Linguistik.
Bandung: Angkasa.
Bloofield, Leonard. 1980. Language. New York: Harcourt Brace Javanovich, Inc.
Busri, Hasan. 2007. Kajian Linguistik: Pengantar Memahami Hakikat Bahasa. Malang: Universitas Islam Malang.
Comsky, Noam. 1965. Aspets of the Theory of Syntax. Cambridge: Marsachusetts M.I.T Press.
Comsky, Noam. 1965. Language and Mind. New York: Harcourt Brace Javanovich.
Lyons, John. 1982. Language and Linguistics. Cambridge: Cambridge University
Press.
Purwo, Bambang Kaswanti (Ed.). 2000. Kajian Serba Linguistik untuk Anton
Moliono Pereksa Bahasa. Jakarta: Universitas Katolik Indonesia
Atmajaya.
Rusyana, Yus dan Samsuri (eds.). 1983. Pedoman Penulisan Tatabahasa
Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sampson, Geoffrey. 1980. Schools of Linguistics Competition and Evaluation.
London: Hutchinson.
Samsuri. 1988. Berbagai Aliran Linguistik Abad XX. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi,
P2LPTK.
Samsuri. 1987. Analisis Bahasa: Memahami Bahasa Secara Ilmiah. Jakarta:
Erlangga.
Sapir, Edward. 1975. Language. New York: Harcourt Brace Javanovich
Wahab, Abdul. 1990. Butir-butir Linguistik. Surabaya: Airlangga University
Press.
Wahab, Abdul. 1991. Isu Linguistik Pengajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya:
Sumber: labanursongo.blogspot.com/2011/.../makalah-linguistik-tradisional.ht...
0 komentar:
Posting Komentar